PENGETAHUAN DASAR 3 _BAJU DAN STATUS SOSIAL

by - January 29, 2018

Struktur Masyarakat Jawa Kuno


Didalam kesusasteraan seperti Nagarakragama dan di dalam Nagaraktratagama dan di dalam berbagai prasasti banyak sekali disinggung tentang pembagian golongan masyarakat ke dalam kasta-kasta (caturwarna), yaitu kasta Brahmana, kasta ksatrya, kasta waisya dan kasta sudra. Mengenai pembagian pembagian kasta-kasta ini berpendapat bahwa yang ada di India tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di Indonesia. Pigeud membagi masyarakat Jawa Kuno kedalam 4 kelas yang terdiri dari kaum penguasa, kaum agama, orang biasa dan budak.

Dengan demikian masyarakat jawa kuno terbagi atas 3 golongan utama, yaitu golongan penguasa, golongan agama dan golongan rakyat biasa.

Seperti halnya dengan pembagian masyarakat kedalam golongan-golongan maka De Casparis pun berpendapat bahwa adanya pembagian karsa yang dikenal di Indonesia ini peraturannya tidak sekeras yang terdapat di India (de Casparis). Ia membagi masyarakat Jawa Kuno kedalam 3 golongan:

1.       Golongan pertama, yang terbesar jumlahnya, adalah penduduk desa seluruhnya.
2.       Golongan kedua adalah sang prabu dengan segenap kaum keluarganya dan mereka yang langsung kepada sang prabu, dengan mudah dapat kita sebut golongan keraton.
3.       Golongan ketiga golongan agama, antara lain pedanda-pedanda di candi-candi, orang yang tinggal di wihara-wihara dan pegawai-pegawai rendahannya.

Dari pendapat kedua sarjana ini, saya cenderung mengikuti pendapat bahwa memang dijawa ada pembagian kasta walaupun pembagian kasta ini berbeda dengan di India. Masyarakat yang menganut agama Hindu pasti mengenal kasta, demikian juga masyarakat kerajaan Mataram, seperti yang tertulis dalam prasasti-prasasti dan juga kitab-kitab hukum. Sebagai contoh di dalam prasasti terdpat perbedaan dalam sebutan pu, dyah, bhagawanta, dapunta, san, dan si. Misalnya pu dan dyah dipakai untuk pejabat kerajaan yang berpredikat rakai, sedang dapunta dan bhagawanta biasa dipakai oleh orang yang tergolong agama, sebutan san dan si dipakai untuk rakyat biasa.

Sebutan-sebutan diatas tadi kita dapati dalam prasasti-prasasti, misalnya sebutan pu kita temukan dalam prasasti Manulihi. Sebutan baghawanta dalam prasasti Harinjing , sebutan daputan dalam prasati Kaladi. Untuk sebutan san misalnya dalam prasati pangumulan. Untuk sebuatan si ada di dalam prasasti Harinjing, prasasti Tulang Air dan masih banyak lagi.

Uraian di atas hanya merupakan contoh bahwa memang ada sebutan-sebutan untuk menunjukkan adanya macam-macam golongan dan masih banyak lagi prasasti yang menyebutkan sebutan-sebutan tadi, tetapi cukup hanya disebut beberapa prasati saja sebagai contohnya.

Uraian tersebut hanya menunjukkan memang ada perbedaan dalam sebutan yang menunjukkan adanya pembagian masyarakat kedalam kasta-kasta walaupun tidak diterapkan secara nyata. Kasta pada masa itu agaknya hanya dianggap sebagai suatu kerangka pembagian masyarakat menurut ajaran agama Hindu. Tetapi dalam kenyataannya masyarakat berjalan berdasarkan tata sosial dan budaya Indonesia yang telah ada sejak sebelum kedatangan pengaruh agama Hindu.

Di dalam sumber-sumber prasasti dapat diketahui di samping golongan elite yang terdiri dari orang-orang kasta btahmana dan ksatrya yang memegang pemerintahan, terdapat rakyat biasa yang jauh lebih besar jumlahnya yang kebanyakan hidup di desa-desa, terutama yang jauh dari pusat-pusat pemerintahan, tetapi juga ada desa yang dekat dengan pusat kerajaan. Mereka hidup sebagai petani, perajin, pedagang, kaum budak, dan buruh kasar. Golongan pertama mempelajari basa sanskerta, agama Hindu atau Budha Mahayana, dan berbagai institusi dari India, sedangkan rakyat ternyata sedikit sekali terkena pengaruh kebudaan India. Hal ini antara lain dapat dilihat dari banyaknya nama-nama rakyat dan penduduk desa yang memakai kata-kata Indonesia asli, sedangkan golongan elite kebanyakan menggunakan nama-nama asli dalam bahasa sanskerta.

Ilustrasi pada Kebuayaan Lain

Mengenai stratifikasi sosial ternyata setiap kebudayaan memang menampilkannya antara lain lewat pakaian. Ada kemungkinan yang satu mempengaruhi kebudayaan yang mempengaruhi kebudayaan yang lain sehingga dalam hubungan stratifikasi sosial ini sebaiknya diambil contoh suatu kebudayaan yang cukup tua dan mapan. Dengan melihat pada kebuadayaan yang relatif murni ini perbedaan golongan sosial yang ditampilkan lewat pakaian merupakan ciri universal.

Kita ambil contoh pakaian pria dari zaman Gupta yang dapat diklasifikasi menurut jabatan dan status sosial, situasi dan status sosial pemakainya, ialah:

a.       Pakaian raja

Raja-raja Gupta memakai dhoti dan turban ditempat yang tidak dilihat umum; di muka umum raja-raja ini memakai berbagai-macam perhiasan sesuai dengan acaranya.
b.      Pakaian orang-orang kaya
Pangeran-pangeran dan orang-orang kaya pada zaman Gupta memakai dhoti dengan ikat pinggang dan turban.
c.       Pakaian orang-orang biasa
Pakaian orang biasa terdiri dari dhoti, ikat pinggang dupatta atau vaikakshya dan vaikakshya dan chadar. Tetapi semua ini tidak dipakai sekaligus. Seorang laki-laki cukup memakai dhoti dan chadar untuk menutup bagian atas tubuhnya atau memakai dupatta atau hanya memakai ikat pinggang saja. Dapat di lihat bahwa dhoti adalah pakaian utamanya.
d.      Pakaian tentara
Terdiri dari dhoti dengan lipatan-lipatan yang dijahit di belakang sehingga tidak mengganggu gerak-geriknya. Mereka memakai jas tangan panjang dan turban di kepala mereka. Sebagai pengganti mantel dipakai sejenis blus pendek hanya memakai ikat pinggang dan ikat kepala.
e.      Pakaian pemburu
Para pemburu hanya memakai dhoti pendek. Rambut mereka diikat dengan pengikat kepala, atau dipakai celana pendek dengan ikat pinggang dan kaki memakai chappal. Pemburu-pemburu yang lebih berada mengenakan sejenis mantel sebatas pinggang, celana panjang sepatu lars.
f.        Pakaian pemain musik
Memakai blus pendek dan dhoti yang dilipat dibelakang dan jatuh sampai ke batas lutut. Mereka memakai topi tinggi, tapi runcing atau sejenis peci atau topi keledai dan topi berkerut (jenis topi ini biasa dipakai oleh seorang penari).

Sesuai dengan urutan contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa pada umumnya pakaian itu memang disesuaikan menurut situasi (berburu, berperang), lingkungan (alam terbuka, hutan), dan stratifikasi sosial.

Mengenai stratifikasi sosial ini memang nyata peraturan-peraturannya. Dan untuk menjaga ciri-ciri kebesaran dan untuk mencegah ditiru masyarakat rendah sejak dahulu golongan atas selalu berusaha untuk membedakan cara berpakaiannya, yang sebetulnya sulit untuk dipertahankan. Di lain pihak kalangan masyarakat luas akan selalu berusaha meniru cara berpakaian golongan atas ini.

Dari catatan-catatan tentang kebudayaan Aztec yang di buat para misinaris, sebelum kedatangan bangsa spanyol di Meksiko terdapat undangan-undangan berpakaian yang dasarnya menentukan hal-hal sebagai berikut.

1.       Rakyat jelata hanya boleh memakai pakaian dari bahan sederhana
2.       Hanya kalangan atas yang boleh memakai pakaian dari bahan yang eksklusif
3.       Hiasan tertentu yang diizinkan untuk pakaian atas
4.       Pakaian disesuaikan dengan status suami atau ayah kecuali untuk pendeta wanita.

Pakaian khusus yang menunjuk pangkat adalah suatu mantel pakaian perang (Tilmatli) yang menjadi lambang status paling nyata dan paling diinginkan. Corak mantel ini harus memiliki syarat-syarat yang ketat sesuai dengan pangkat atau jasa seseorang di medan perang.

Di samping mantel dan baju perang terdapat rompi khusus untuk baju upacara. Ternyata ada 6 kelompok sosial yang boleh memakai baju tersebut:

a.       Dewa-dewa dan yang mewakili mereka
b.      Pendeta-pendeta
c.       Bangsawan-bangsawan
d.      Tawanan-tawanan perang yang akan dikorbankan
e.      Pedagang-pedagang dengan budak belian yang akan dikorbankan
f.        Pejabat pemerintahan (administrator)


Rompi xicolli ini merupakan jaket berumbai-rimbai. Menurut catatan terutama dipakai oleh pendeta yang sekaligus membakar kemenyan di tangannya dengan tempat pembakaran kemenyan pada tangan yang lain.

You May Also Like

0 comments